Love Do [Part 23]

Bondan tersenyum sumringah saat Keiko datang dengan membawa secangkir teh.
"lama ya...?" tanya Keiko namun Bondan menjawab dengan menggeleng, "nggak kok..tadi ada yang nemanin ngobrol disini.."
"..ohh..siapa..?Ayah..?"
"..bukan..ponakan kamu..siapa tadi namanya..??"
Keiko mengernyitkan dahinya bingung, "..ponakan..?"
"..iya..kalau nggak salah, Lulu' yak namanya..??yang waktu itu main piano di launching resto kamu.." Bondan berusaha mengingat. Keiko menelan ludah menyadari yang dimaksud Bondan adalah Lulu.
"..nemenin disini..??cerita apaan..?"
"..nggak..hehe..lucu aja, soalnya seumuran dia sudah nanya aku ini apanya kamu..pacar atau teman..??..sedekat apa..??pokoknya lucu banget..sampe bilang kamu ini orangnya jahat, jelek, pemalas..ngejelek-jelekin kamu lah..."
Keiko menengok kedalam rumah. Tertawa kecil mendengar kata-kata Bondan. Lulu begitu peduli akan hubungannya dengan Dewa.
"..oya, Kei..ini kaset film yang aku bilang..pemutarannya di cancel dulu sampai ujian nasional selesai..mungkin kamu penasaran, ini masih copy-an saja..anak-anak minta kamu ngasih masukan hasil editan mereka..udah sesuai sama alur script kamu atau belum..kalau iya, produksi nya bs lebih cepat, tapi kalau enggak bakal di edit ulang.." kata Bondan.
Keduanya pun membahas soal film indie mereka, sampai Keiko terhenyak saat mendengar suara Dewa yg memberi salam dan melihat sosok Dewa muncul didepan pintu rumahnya.
"..Wa alaikum salam..." jawab Bondan dan Keiko hampir bersamaan.
Tanpa Keiko inginkan, jantung nya berdebar resah saat melihat betapa gagah dan tampannya Dewa dalam jaket kulitnya. Keiko berusaha mengendalikan keresahannya dengan berdiri.
"..naik apa kesini..??kok nggak kedengaran suara mobil kamu..?" tanya Keiko setelah menarik napas dalam-dalam.
"..jalan kaki..nanti di jemput sama teman-teman basket disini..mau makan malam sama coach diluar.." kata Dewa seraya menyapa Bondan dengan senyum ramahnya.
"..sekalian mau lihat Lulu'..mau pastiin dia tidur lebih cepat..kalau malam minggu begini dia suka diam-diam begadang nonton FTV..aku masuk yah..yuk,Bondan.." 
selama beberapa saat Keiko hanya diam memandangi Bondan yang memperhatikan Dewa masuk kedalam ruangan keluarga Keiko. Bondan tersenyum seketika dan melirik ke Keiko.
"..Lulu itu bukan ponakan aku..dia adiknya Dewa..malam ini dia nginap disini karena mama papa mereka keluar kota.."
"..sekarang aku tahu kenapa tadi aku diserang dengan pertanyaan-pertanyaan aneh anak manis itu.." Bondan tertawa mengingatnya "..hubungan kalian baik-baik saja kan..?" tanya Bondan kemudian.
Keiko menjawab dengan senyuman tipis. Seandainya ia boleh bilang "iya" dengan lantang, tapi tidak bisa.
-----------------------------------------------------

Setelah mengantar Bondan sampai di halaman depan, Keiko masuk kedalam rumahnya dengan mengatur napasnya. Diruang tengah ia melihat Dewa sedang merayu Lulu yang belum mau tidur.
"Lulu nggak mau..pokoknya Lulu mau pulang.." rengek Lulu.
"..Lulu nginap disini dulu yah..1 hari saja kok..besok kakak jemput.."
"..nggak mauuu..Lulu dirumah sama mbok juga nggak apa-apa.."
Keiko menoleh memandangi ayahnya yang juga ada disana.
"..tapi kakak pulangnya tengah malam Lu'..kalau nanti jemput Lulu' disini nggak enak sama om Dibyo dan kak Keiko nya yang sudah istirahat.."
"..biarin..Lulu pokoknya nunggu sampai kakak pulang.." jawab Lulu' dan langsung menghentakkan kakinya dan memilih duduk depan TV. Dewa tersenyum kearah om Dibyo.
"Maaf om..Lulu emang rewel kalau nginap dirumah orang lain.."
Pak Dibyo hanya mengangguk dan mengerti keadaan Dewa. "..nanti biar Keiko yang ngajak ngobrol.." kata pak Dibyo membuat Keiko mengangguk kearah Dewa.
"..iya, biar aku yang nemenin nanti..kalaupun dia harus nunggu kamu pulang sampai tengah malam..besok kan hari Minggu..begadang bukan masalah kok.." Keiko meyakinkan Dewa.
Dewa menghela napasnya. Makin menampakkan wajahnya yang lelah. Keiko menelan ludah. Rasanya ingin berbagi cerita yang bisa membuat Dewa bisa tenang atau sedikit melupakan masalah keluarganya saat ini.
"..loh..bukannya kamu ada tamu, Kei..??kok malah tinggal disini.." Dewa menyadari keberadaan Keiko yang sejak tadi terdiam disebelahnya.
"..mm..Bondan nya udah pulang.."
hanya kalimat "..oohh.." yang keluar dari mulut Dewa. Dewa lalu berjalan keluar, ke ruang tamu. Keiko duduk disebelah Dewa dengan tenang. Dewa menyandarkan kepalanya disofa.
"..Lulu ngerepotin satu rumah kamu, Kei.."
"..nggak papa kali Wa'.."
"..baru kali ini Lulu begini..dia gampang beradaptasi kok anaknya..tapi nggak tau deh kenapa jadi rewel banget hari ini.."
bingung Dewa memikirkan tingkah Lulu hari ini.
Keiko menoleh ke Dewa.
"Wa'..maaf nih ya sebelumnya..kayaknya aku tau deh kenapa Lulu jadi rewel gitu..ini gara-gara aku.." akhirnya Keiko mengaku. Dewa menoleh seraya memandang Keiko dengan heran.
"..tadi waktu diruang makan, aku bilang kalau...kalau..kita sudah putus..." ujar Keiko membuat Dewa meluruskan badannya dan duduk sempurna seraya memandangi Keiko yang juga memandanginya dengan diam.
Dewa tertawa sinis.
"..good job, Kei..kamu memang sukses membuat mood Lulu jelek.." kata Dewa seraya berdiri. Keiko mendongak memandangi Dewa yang bertolak pinggang memandang kearah lain.
"..aku cuma ngomong sesuai kenyataannya kan..??Lulu perlu tau juga kalau kita memang nggak ada hubungan apa-apa.." Keiko membela diri. Dewa memandangi Keiko. Kalimat Keiko barusan membuat sakit hatinya beberapa hari yang lalu yang hampir sembuh terasa sakit kembali.
Kedatangan Bondan kerumah Keiko barusan sudah cukup membuatnya cemburu. Meski sudah berusaha mengikuti alur perasaan Keiko dengan tidak begitu menuntut perhatian lebih dari Keiko justru membuat wanita itu makin terasa jauh darinya. 
Keiko merasa wajahnya memanas karena Dewa memandanginya dengan tatapan kosong. Suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya membuat ia sedikit lega. Jemputan Dewa sudah datang.
"..gue pergi..Lulu gue jemput nanti.." kata Dewa tanpa menunggu persetujuan Keiko.
Butuh waktu yang lama untuk Kei mengendalikan perasaan jengkel bercampur penyesalan dalam hatinya. Jengkel karena selalu disudutkan, selalu dianggap penyebab masalah yang ada antara mereka berdua dan menyesal karena dirinya dikendalikan oleh hatinya, bukan otaknya. 
--------------------------------------------------------

Keiko tersenyum tipis melihat Lulu masih diruang tengah..memeluk bantal kursi dan memusatkan perhatiannya ke TV. Waktu sadar Keiko ada disebelahnya, Lulu langsung mengambil jarak.
"..Lu'..belum ngantuk..?"
"..Lulu mau tunggu kak Dewa pulang..."
"..kalau Lulu mau pulang nggak apa-apa..tapi kakak Dewa nya pasti lama diluar..jadi Lulu tidur saja, kalau kak Dewa nya sudah datang,kakak pasti bangunin Lulu..."
"..nggak mau..!!" jawab Lulu ketus.
Keiko menggigit bibirnya. Susah membuat Lulu takluk kali ini. Dewa benar,susah mengembalikan mood Lulu kalau sudah masalah hubungan mereka. Entah cara apa yang biasa Dewa lakukan untuk bisa mengembalikan mood Lulu.
"...mmm..Lulu marah karena kakak putus sama kak Dewa..?" tanya Keiko berhati-hati.
Lulu diam. Namun beberapa saat Keiko tersenyum melihat Lulu menganggukkan kepalanya.
Dengan perasaan lega, Keiko mendekati Lulu dan mengusap kepala gadis kecil itu.
"..Lu..kenapa mesti marah...??..putusnya baik-baik kok.."
"..Lulu sedih kalau kakak putus..Lulu nanti nggak punya teman, nggak boleh main kesini, gak dibuatin kue..gak bisa kursus piano lagi.." suara Lulu bergetar.
"..Lulu sayang sama kak Dewa..sama kak Keiko juga..Lulu nggak mau kak Dewa kembali sama kak Lana..dia jahat..nggak seperti kak Keiko yang sayang banget sama Lulu dan kak Dewa.., kalau nanti kalian pisahan, trus kak Dewa nya kembali ke kak Lana, Lulu nggak mauuuu...." Keiko surprise melihat mata Lulu berkaca-kaca. Keiko tersenyum dan menyentuh kedua pipi Lulu, mengarahkan wajah Lulu kearahnya.
"..Lulu sayang..kak Dewa dan kak Keiko sahabatan..jadi kamu nggak perlu khawatir sayang..kakak janji akan selalu nemenin Lulu kalau lagi kesepian, Lulu mau dibuatin kue, kakak pasti bikinin..kursus pianonya juga..kursus piano Lulu nggak bakal berhenti...sampai Lulu jadi pemain piano terkenal kakak bakalan ngajarin Lulu.." Keiko meyakinkan Lulu.
"..janji...??" dan dijawab anggukan kepala Keiko.
Keiko merasakan kali ini pipinya yang basah ketika Lulu langsung menghambur kepelukannya.
"...tapi aku nggak mau kakak berdua putus..aku nggak suka lihat kak Keiko jadiannya sama kakak yang tadi datang..kak Dewa nya lebih cakep.." kalimat Lulu barusan membuat Keiko tertawa. Adik kakak ini sama sifatnya, sama-sama suka membandingkan diri mereka dengan orang lain dengan kelebihan mereka.
"...kak Dewa nya memang menjengkelkan..sering marahin kak Keiko, tapi Lulu tahu..kalau kak Dewa nya begitu karena sayang sama kakak..seperti sayangnya ke Lulu juga..." kini Lulu bersandar di bahu Keiko. Keduanya sedang memandangi layar TV. Tapi tangan Keiko masih mengusap-usap kepala Lulu.
"...kalau kak Keiko..??..sayang nggak sama kak Dewa...??"
Keiko menelan ludahnya mendengar pertanyaan Lulu. Matanya menerawang. Hatinya bilang iya, tapi mulutnya kaku, entah harus mengeluarkan kata "iya" itu atau tidak.
"..kakak sayang sama kalian berdua..kakak sedih kalau kalian berdua sedih..kakak juga nggak bisa jauh dari kalian.." hanya itu jawaban Keiko dan berharap Lulu tidak meminta lebih.
"..kalau cinta..??kan kalau pacaran harus ada cinta nya juga..."
Kali ini Lulu berhasil membuat hati Keiko mencelos. Keiko mengarahkan Lulu untuk tidur di pangkuannya.
"..pacaran itu nggak selamanya ada cinta didalamnya Lulu..tapi kalau Lulu tanya apakah kakak cinta sama kak Dewa, Lulu nggak boleh dengar dari mulut kak keiko saja..soalnya kak Keiko sendiri belum pernah tanya sama kak Dewa cinta sama kak Keiko atau tidak..cinta nggak bisa hanya ditanya trus dijawab "iya" atau "tidak"..tapi harus dirasa..."
Lulu terdiam, menikmati usapan tangan Keiko dikepalanya. Keiko tahu jawabannya ini belum begitu dipahami untuk gadis seumuran Lulu. Tapi Keiko pun tak tahu harus bilang apa. Karena menurutnya, ia sudah merasakan cinta untuk Dewa, tapi tak bisa ia ungkapkan.
"..Lulu yakin..kak Dewa cinta sama kak Keiko..." jawab Lulu pelan, hampir tak terdengar. Keiko memandangi Lulu. Dan tersenyum melihat gadis itu menutup matanya perlahan. Keiko menghela napas. Berargumen dengan anak seumuran Lulu sungguh menguras otak dan perasaannya. Namun rasanya lega, karena tanpa sadar, sebagian beban hatinya sudah ia keluarkan. Meski hanya didepan adik semata wayang Dewa. Bukan langsung ke Dewa, orang yang sudah membolak-balik kan perasaanya. Rasa khawatir kini menyelimuti perasaan Keiko mengingat Dewa tadi pergi dengan rasa marah. Ada rasa takut Dewa melakukan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri, seperti kebiasaannya kalau lagi marah.
Keiko memandangi jam dinding dan ponselnya secara bergantian. Segera Keiko mengirimkan pesan singkat ke nomor Dewa.

"Wa'...lagi dimana..??kalau makan malam nya kelar,cepat pulang ya..kasihan Lulu nungguin kamu..eniwey..maafin aku ya.."

dan Dewa ditempat lain membaca itu dengan senyuman sinis, ia langsung menjauhkan ponselnya dan bergabung keteman-temannya yang tengah menghibur diri dengan bergoyang-goyang menikmati musik di diskotik yang riuh dengan orang yang haus hiburan.

Keiko manyun, tak ada balasan SMS yang ia terima.

Love Do [Part 22]

Lulu membuka buku-buku musik di meja dapur Keiko. Sejak pulang sekolah, Lulu langsung kerumah Keiko. 
Keiko pun diberi ijin oleh ayahnya untuk tidak membantu dulu di Neko. 
Siang itu Keiko membuatkan Lulu kue. Sambil membuat kue Lulu juga belajar membaca not balok.
"..Lulu diajarin lagu baru lagi dong kak..masa' sih Somewhere Over The Rainbow melulu...??" protes Lulu. Keiko yang sedang sibuk dengan adonan kuenya hanya tersenyum.
"..iya,..nanti kakak ajarin, tapi kelar ujian dulu yah, Lu'..??..untuk sementara kamu belajar sendiri dulu.." jawab Keiko kemudian.
"..janji ya..?" Keiko tersenyum meyakinkan tanya Lulu. 
Bunyi klakson mobil membuat Lulu berlarian menghambur keluar. Dia yakin itu pasti kakak nya, Dewa. Dan benar saja, Dewa datang dengan membawa tas kecil dan boneka Teddy Bear nya. Dewa tersenyum melihat kening Lulu berkerut.
"..kenapa Teddy nya dibawa kesini..?"
"..Lulu hari ini nginap disini dulu ya..??soalnya papa sama mama keluar kota.." kata Dewa sambil menyerahkan boneka kearah Lulu. Lulu hanya mengangguk.
Sampai didapur, Dewa memamerkan senyuman tipisnya ke Keiko.
"..sori tadi nggak bisa pulang bareng.."
"..ohh,enggak..tadi emang langsung pulang karena mbak Bian nelpon kalo ada Lulu dirumah, jadi buru-buru pulangnya, nggak ngomong dulu.."
"oohhh...sori ya, ngerepotin kamu lagi soal Lulu.."
Dewa mengelus kepala adiknya, "..malam ini Lulu nginap disini nggak papa..?" kata Dewa membuat Keiko mengerutkan dahinya. Namun setelah itu mengangguk seperti paham akan arti tatapan Dewa. Pikir Keiko ada yang disembunyikan Dewa dari Lulu.
"..kak Dewa jangan pergi dulu yah...??main nya disini saja bareng kita..kak Keiko lagi buatin Lulu kueee..." suara cempreng Lulu membuat Dewa dan Keiko tertawa.
"iya..udah lama juga nih gak ngerasain kue buatan kamu,Kei...aku bantuin yak..??" baru saja Dewa akan membantu Keiko, Keiko sudah duluan mendorong tubuh Dewa untuk menghindar.
"..rese'..gak usah ikut bantuin..udah makan siang belum..?" tanya Keiko masih mendorong tubuh Dewa kearah meja makan diruang makan. Lulu tertawa melihatnya, merasa lucu dengan tingkah keduanya yang terlihat seperti main kereta api. Lulu pun ikut-ikutan mendorong tubuh Keiko dan ikutan berjalan kearah ruang makan.
Dewa tertawa melihat ada Lulu dibelakang mereka dan langsung bernyanyi "naik kereta api..tuut..tuuut..tuut...!!!"
Keiko juga tertawa merasa lucu dengan tingkah mereka. Lumayan membuat rasa gugupnya hilang. Waktu Dewa mendekat tadi serasa badannya membeku. Ya ampun, segitu kuatnya pengaruh Dewa sampai harus membuatnya bertingkah konyol begini.
-----------------------------------------------------------------------

"ituuuuu..itu aja, kakaaaak..." pekik Lulu dan merebut remot dari tangan kakaknya, Dewa. Keiko hanya tertawa melihat tingkah Lulu dan Dewa yang sejak tadi berebutan remot TV. Ketiga nya menikmati Sabtu sore itu dengan menonton acara TV diruang tengah.
"giliran Lulu yang nonton..yang tua harus ngalah.." ejek Lulu ketika berhasil merebut remot TV dari tangan Dewa.
"..ihhh..nenek lampirrrrr...." Dewa balas mengejek sambil menggelitik pinggang Lulu. Lulu berhasil menjauh dan menjulurkan lidah untuk kakak nya.
"no more Ice Cream...." ancam Dewa.
"whateverrrrr...." balas Lulu dan duduk di depan TV.
"eeerrggghhh...Lulu jeleeek.." Dewa langsung melempari Lulu dengan bantal kursi. Lulu mengerang perlahan, "..kak Keikooo...kak Dewa tuuuhhh..." Lulu merengek ke Keiko. Dewa menoleh ke Keiko yang ada disebelahnya. Keiko mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan ia tak mau ikut-ikutan perang saudara yang mereka lakukan sekarang.
"Ampun kalian berdua...yang satunya gak mau ngalah sm yang kecil..yang satunya cereweeeetttt...pusiiinggg..." kata Keiko sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Dewa dan Lulu tertawa bersamaan melihat tingkah Keiko yang lucu.
"..kamu lucu banget sih hari ini.." kata Dewa kemudian dengan lembut.
Dan Keiko mendengar itu meski tangannya rapat menutup kedua telinganya. Keiko menyapukan pandangannya ke sekelilingnya dengan bingung mencari sesuatu yang bisa membuat Dewa berhenti memandanginya. Dan dengan sukses majalah tebal mendarat di wajah Dewa. Erangan sakit dari mulut Dewa dan suara tawa Lulu dan Keiko menjadi satu.
Keiko menahan tawanya melihat Dewa melotot. Lulu uga pura-pura serius menonton TV saat Dewa menoleh ke adiknya.
"..seandainya disini ada Om Dibyo..habislah kalian berdua.." kata Dewa jengkel.
Keiko pura-pura membaca majalah yang lain. Dewa balik kearah TV, masih mengelus jidatnya yang lumayan perih. Keiko melirik, dan tertawa lagi. Dewa hanya tersenyum mendengar Keiko cekikikan. Baru saja Dewa ingin melirik ke Keiko, ponsel Keiko yang ada di meja menyala. Raut wajah Dewa seketika berubah melihat nama yang muncul di layar ponsel Keiko. Keiko buru-buru mengambil ponselnya.
"..Bondan..??kenapa...??" Keiko memulai pembicaraannya dan beranjak ke arah ruangan lain.
Dewa tertegun, sayup-sayup mendengar cara berbicara Keiko di telepon dengan Bondan. Seakan ada sesuatu yang istimewa diantara mereka. Dewa langsung berdiri. 
"Lulu...kak Dewa pulang ya..??mau mandi sore dulu.."
Lulu berbalik memandangi kakaknya.
"..lohh..kok pulang...??Lulu ikut..." tukas Lulu cepat dan ikut berdiri.
"..Lulu disini saja..mandi sore nya disini..kan tadi kakak sudah bawain pakaian Lulu..nanti kakak bilang sama Keiko buat mandiin kamu..oke, sayang...??"
"..trus kak Dewa mau kemana..kenapa gak mandi disini saja..?"
"..enggak ahh, om Dibyo gak ada dirumah..kakak mandi nya dirumah..nti malam kesini lagi kok.." kata Dewa mengakhiri pertanyaan Lulu dan berlalu setelah mengecup kepala adiknya.
----------------------------------------------------------

Keiko mengernyitkan dahinya saat kembali keruang tengah mendapati Dewa tak ada lagi. Hanya Lulu yang kini serius menonton TV.
"kak Dewa mana, Lu'...?"
"..pulang kerumah..mandi soree..." jawab Lulu cuek.
Keiko menghela napas berat.
Cepat amat disini...??Kok gak pake' pamit..?..pikir Keiko.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Makan malam dirumah keluarga om Dibyo malam ini berbeda. Ada Lulu disana. Lulu dengan pakaian tidurnya menikmati makan malam bersama om Dibyo, mbak Bian dan Keiko. Suasana di ruang makan kali ini menyenangkan. Lulu memang lucu, kalau mau dibilang, Lulu lebih suka bercerita dari pada makan. Dan om Dibyo sependapat dengan mbak Bian kalau Lulu sangat mirip dengan Keiko.
"..kamu nggak malam mingguan, Kei...?" tanya mbak Bian. Keiko menggeleng kepala, seraya tersenyum. Om Dibyo melirik Keiko.
"..udah baikan sama Dewa kan...?" tanya ayahnya.
"emang habis marahan kak..?" tanya Lulu.
"..kan udah putus sayang..." jawab Keiko tenang dan langsung beranjak dari meja makan. Lulu terdiam. Om Dibyo menghela napas melihat Lulu berhenti menikmati makan malamnya. 
"..Kei..mau kemana..??" tanya om Dibyo saat Keiko berjalan keluar dari ruang makan.
"..aku mau nunggu Bondan diluar..katanya mau datang kesini.." jawab Keiko sambil lalu. 
Lulu memanyunkan bibirnya memandangi Keiko yang keluar duluan. 
"..Lulu sayang mau nyobain es krim strawberry campur mint buatan om, nggak..?" Om Dibyo mulai panik melihat Lulu yang tidak menghabiskan makan malamnya. Lulu menggeleng "..Lulu mau nonton TV saja..." dan meninggalkan ruang makan menyusul Keiko.
Om Dibyo dan mbak Bian berbagi pandangan.."ada apa dengan kedua wanita itu...?" om Dibyo kebingungan.
-----------------------------------------------------------------------------

Lulu melirik kearah Keiko yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya dan melirik jam tangan. 
"..kenapa putus sama kak Dewa..?"
Keiko tersentak mendengar Lulu tiba-tiba bertanya. 
"..ya ampun Luluuu..kakak kira kamu lagi serius nonton TV.."
"..jawab Lulu dulu, kenapa putus..??kapan putusnya,..?Bondan itu siapa..??pacar baru kakak...??" serentetan pertanyaan Lulu membuat Keiko bingung ingin menjawab yang mana dulu.
Suara ketukan pintu menyelamatkan Keiko. Keiko buru-buru beranjak keruang tamu meninggalkan Lulu yang manyun ditinggal sendiri.
"Hai...masuk yuk.." Keiko menyapa Bondan yang berdiri didepan pintu.
"..thank you,Kei..sendirian aja nih dirumah...?"
"..enggak..Ayah ada kok, mbak ku juga ada.."
Bondan menyodorkan bungkusan.
"Apaan nih...??" tanya Keiko seraya membuka bungkusan yang dibawa Bondan. Seketika Keiko tertegun melihat isi bungkusan itu. Sesuatu yang membuat hatinya mencelos mengingat seseorang.
"..dari mamaku..kamu kan suka sama Strawberry.."
"..makasih yahh..aku jarang banget bikin puding dari Strawberry...nanti sampein makasih aku sama mama kamu.."
Bondan mengangguk. Keiko canggung. Ada rasa rindu menyusup hatinya. Matanya menerawang keluar pintu. Mengharapkan kehadiran seseorang. Tapi ia buru-buru tersenyum lembut memandangi Bondan yang duduk manis disebelahnya.
"..ehh, aku bikinin minum dulu...mau minum apa..?""..gak usah repot-repot, Kei..kesini cuman mau antarin kue sama kaset film kita doang.."
"..ihh, nggak usah segan gitu kali,..teh panas mau..?"
"..boleh..makasih ya,Kei.."
"..oke..aku tinggal bentar yahh..." kata Keiko dan beranjak masuk ke dapur. Di dapur ketemu sama om Dibyo.
Keiko nampak menghindari  ayahnya.
"..kamu nggak seharusnya ngomong begitu depan Lulu.."
"..loh, kenapa nggak bisa..??aku sama Dewa memang sudah putus kok..kalau Ayah melihat kami baikan lagi karena memang kami memilih untuk bersahabat..tanya aja Dewa.." jawab Keiko dengan kesibukannya membuat minuman untuk Bondan.
"..kamu terlalu kasar ngomong seperti itu sama Lulu..Dewa mungkin saja belum bicara seperti itu ke Lulu.."
Keiko berhenti mengaduk gula di dalam cangkir berisi air panas. Ia menghela napas kemudian memandangi ayahnya.
"..menurut ayah, berpura-pura didepan Lulu seperti ini nggak bikin aku stres..??..Keiko capek..berpura-pura didepan banyak orang kalau kami pacaran,..berpura-pura di depan Dewa sendiri dengan perasaan ku..Kei nggak mau lagi berpura-pura,,kalau Lulu harus tahu kalau kami memang sudah tidak ada hubungan lagi itu lebih baik..kan itu juga yang Ayah mau.." suara Keiko bergetar.
"..ini nggak akan lebih baik kalau kamu juga masih berpura-pura dengan diri kamu sendiri, Kei...jangan bohongi ayah..jangan bohongi diri sendiri.." kata Ayahnya dan beranjak meninggalkan Keiko sendiri di dapur.
Keiko menghela napasnya panjang. Membenarkan apa yang ayahnya katakan tadi. Bagaimana pun ia tidak akan bisa tenang kalau tak bisa melawan perasaannya sendiri. Rasanya hampa harus mengenyahkan pikiran nya tentang Dewa. Padahal sudah sekuat tenaga ia berusaha mengalihkan pikirannya ke sekolah, restoran dan musiknya. Tapi percuma, justru membuatnya merasa tak secerdas dulu lagi dalam pelajaran, kreatifitasnya mati, semuanya hambar, selera musiknya hilang, malah rindu yang mengisi kehampaannya. Sementara ia tahu, Dewa tak sedikit pun memiliki perasaan khusus padanya.
"..Dewa sableng..gilaaaaa...mana luuuuu...???" pekik hati kecil Keiko merindukan Dewa sambil menaikkan satu alisnya karena jengkel kenapa lelaki itu yang diharapkannya datang malam ini. Bukan Bondan.

Love Do [Part 21]

2 hari sudah berlalu sejak kejadian Dewa mendapati papa nya dengan wanita lain selain mamanya. Sejak hari itu Dewa banyak berdiam diri dikamar, menutup dirinya. Disekolah lebih banyak menghabiskan jam istirahat dengan bermain basket di gedung indoor sekolah. Masalah yang dihadapinya dengan Keiko pun perlahan mulai ia lupakan. 

Keiko melirik jam tangannya dengan gelisah. Sudah 10 menit berlalu dan tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Justru, semakin deras. Sebenarnya berbasah-basah ke resto ayahnya tidak apa-apa, tapi ini sangat deras. Banyak benda penting yang ada dalam tas nya. Sekolah juga mulai sepi. Tersisa beberapa anak sekolah yang juga sedang menunggu hujan reda. Keiko mulai kedinginan, ia segera memakai jaketnya dan memeluk dirinya sendiri. 
Namun, tubuh Keiko membeku seketika saat melihat sosok yang lewat dihadapannya, Dewa, sedang berlari menerobos hujan ke arah tempat parkir mobil.
Ya, terhitung sudah 3 hari ia tidak pernah melihat cowok itu lagi. Sejak kejadian di perpustakaan Keiko merasa jarak mereka sudah terpaut cukup jauh. Beberapa teman-temannya mengira keduanya sudah putus. Dan Keiko mengiyakan itu. Toh, tak ada alasan buatnya menyangkal, setelah Dewa sendiri yang meminta untuk berpisah. 
Keiko menghela napas. Berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Dewa. Setiap harinya ia harus melawan perasaan nya sendiri untuk menghapus nama Dewa dari hatinya. Harusnya aktifitas melupakan ini mudah karena ia baru saja akan menyiapkan tempat untuk Dewa di hatinya, tapi justru ia salah. Rasanya susah mengingat Dewa sudah banyak melakukan hal yang selalu bisa membuat hari-harinya berwarna. Terlebih tentang bunda nya. 
Keiko memutar badannya, tidak ingin melihat Dewa pergi dengan mobilnya. Ia lebih memilih duduk di bangku depan kelasnya, membelakangi hujan.
Ia memandangi kakinya. Mengingat kata-kata Lulu kemarin. 
"mama sama papa sering bertengkar,kak..Lulu sedih, gak punya teman, kak Dewa nya jarang dirumah.,kalo Lulu mengeluh ke kak Dewa, dianya malah diam dan langsung masuk kamar..kak Keiko tidak marah kan kalau Lulu sering main kesini..?"
Keiko menyembunyikan wajahnya pada telapak tangannya, mendesah resah. Ia yakin, saat ini Dewa sedang berada pada masa sulit. Harusnya ia bisa berada didekatnya saat seperti ini. Bukan meninggalkannya. Sahabat macam apa aku ini, pikirnya.

"Kenapa nggak pulang...?" suara berat yang dikenalnya dengan baik membuat kening Keiko berkerut. Ia mendongak, mendapati sosok yang sejak tadi menguasai pikiran dan hatinya tengah berdiri disampingnya dengan membawa payung.
Keiko menelan ludah. Kenapa Dewa bisa ada dihadapannya sekarang. 
"..m-masih hujan..aku nggak bawa payung.." gumamnya dengan terbata-bata. Entahlah pengaruh cuaca yang dingin atau karena sensasi aneh di hatinya setelah melihat Dewa sedekat ini lagi setelah beberapa hari tak melihatnya. 
"..ayo pulang, aku antar.." suara Dewa kembali terdengar. Ragu, Keiko menggeleng.
"..biar nunggu hujannya reda, kebetulan aku mau ke Neko (restoran pak Dibyo) dulu.." jawab Keiko tanpa melihat kearah Dewa.
1 detik, 2 detik, 3 detik sampai detik ke 10 tak ada suara yang muncul. Dewa masih berdiri disana. Hening. Hanya suara hujan saja. Keiko mengutuk dirinya sendiri. Menurutnya kalimat yang keluar dari mulutnya barusan terdengar kasar. Dewa memandangi hujan setelah itu kembali memandangi Keiko yang tengah menunduk. Ia memperhatikan jari-jari Keiko berkerut karena kedinginan. 
Genggaman tangan Dewa bagaikan sengatan listrik yang mengagetkannya. Keiko tidak sempat lagi berpikir untuk melepaskan tangannya, malah merapat ke samping Dewa karena payung itu sebenarnya muat untuk 1 orang saja. 
Keiko mengikuti langkah panjang Dewa. Terkesan memaksa namun sentuhan tangan Dewa memberikan kehangatan di sekujur tubuh Keiko yang menggigil karena dinginnya cuaca.
---------------------------------------------------------------

Keiko menghela napas dalam-dalam. Suasana di dalam mobil selama perjalanan meresahkannya. Dewa lebih banyak diam. AC mobil dimatikan, biar tidak makin dingin. Bukannya kepanasan, Keiko malah kedinginan. Keiko menoleh ke Dewa yang lebih fokus menyetir mobil.
"..mau diantar ke Neko atau mau langsung pulang, Kei..?" malah Dewa yang membuka percakapan.
Keiko kembali memandang ke depan.
"..ke Neko saja..mau bantuin ayah kerja.."
"..Neko gak lagi kurang pengunjung kan sampai kamu harus ikutan jadi pelayan disana.."
Keiko mendengus kesal. Kesan yang ia dapatkan dari kalimat Dewa tadi membuatnya manyun. 
"..aku digaji kerja disana..gajinya dipake' buat lanjut kuliah nanti..biar gak banyak nyusahin ayah.." jawab Keiko dengan intonasi meninggi. Dewa menahan senyumnya. Rencana nya berhasil, setelah sejak tadi ia memutar otak bagaimana caranya untuk memulai percakapan. Keheningan tadi membuatnya gila.
Mereka sudah sampai didepan Neko. Keiko mengintip keluar. Hujan masih deras diluar.
Dewa menoleh ke Keiko yang sedang memandangi Neko dengan seksama. Tak sengaja mereka beradu mata.
"..mau diantar masuk..?" tanya Dewa ketika Keiko menghindari mata nya.
"..gak usah..gak bakalan basah-basah amat kok.." Keiko bersiap-siap turun, namun terkejut saat mobil terkunci otomatis. Keiko balik memandangi Dewa. 
"..boleh bicara sebentar...?" cegah Dewa.
Wajah Keiko yang tadinya dingin kini menghangat. Kata-kata itulah yang sejak tadi ingin di keluarkan dari mulutnya. Tapi ia merasa canggung.
"..kalau ini tentang masalah kita, bisa nggak sesudah ujian baru kita omongin..?" pinta Keiko, "..aku juga mau bicarain hal lain, tapi ini tentang kamu Wa'.." lanjut Keiko membuat Dewa mengangguk.
Keiko memperbaiki cara duduknya dan menghadap ke arah Dewa. 
"..Lulu sudah cerita semuanya..kondisi keluarga kamu lagi gak mendukung kamu buat konsentrasi ke ujian nanti..jadi aku mau menepati janji aku dulu,.."
Dewa mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat apa janji Keiko dulu.
"..ayo belajar bersama.." lirih Keiko. Dewa seketika tertawa lirih dan menunduk, kemudian mendongak dan tersenyum lebar. Keiko menyipitkan matanya. Tak mengerti arti senyuman Dewa.
"..gak perlu,Kei...aku bisa menghadapi itu kok..aku hanya gak bisa menghadapi Lulu..aku gak tega ngelihat Lulu bingung dengan situasi rumah sekarang..secara psikologi Lulu pasti tertekan..dan aku nggak tau harus bagaimana membuat Lulu tidak merasakan apa yang aku rasa.."
Keiko tahu, ini memang tak mudah buat Dewa sebagai anak pertama. Hanya satu hal yang bisa dia lakukan sekarang. Harus jadi seseorang yang bisa diajaknya untuk bercerita.
"..sebenarnya aku nggak mau tahu dan malas tahu mengenai masalah ini, tapi tadi, waktu lihat kamu masih tinggal disekolah, tiba-tiba jadi ingat keadaan Lulu.."
Keiko tersenyum.
"..sayang Lulu ke kamu lebih besar daripada sayangnya dia ke kakaknya ini..jadi, Kei.." Dewa terdiam sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya, "..jadilah teman cerita untuknya saat ini..meskipun kamu benci banget sama aku..tapi jangan membenci Lulu juga..aku nggak tau harus minta bantuan siapa lagi.."
Keiko tidak menjawab. Memandangi Dewa dengan tatapan penuh arti.
"..aku masih sahabat kamu, kok..kenapa harus meminta..??, " kata Keiko membuat Dewa tersenyum lega.
"..Lulu sudah memintanya sendiri, jadi kamu nggak perlu khawatir..aku siap jadi kakak keduanya.." ucap Keiko dengan seuntai senyum manis.
"..yang aku khawatirkan justru kamu..aku takut kamu akan melakukan hal-hal yang aneh seperti dulu..kata Lulu kamu jarang dirumah..pulang nya selalu tengah malami.."
Dewa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Wahh..Sepertinya ada detektif kecil dirumahku.." kata Dewa bercanda dan Keiko pun tertawa.
Dewa menghela napasnya lega. Ia menoleh kedepan, memandangi keluar jalanan. Hujan mulai reda.
"..nasib lagi jelek banget ke gue,Kei..." lirih Dewa. Mendapati Dewa menggunakan "gue" dikalimatnya membuat Keiko manyun.
"..bokap selingkuh, siang malam ngajakin nyokap bertengkar..remedial banyak, ujian tinggal hitungan jari.." Dewa mengeluh, "..ditinggal pacar pula.." lanjut Dewa membuat Keiko terperangah. Saat Dewa menoleh kearahnya, Keiko buru-buru mengalihkan pandangan kearah lain.
"..tapi gue nggak ditinggalin sahabat gue..dan gue bersyukur untuk itu.." kata Dewa lirih. Keiko memandangi Dewa dan tersenyum penuh arti.

Sekarang Keiko merasa tenang, setidaknya dengan cara seperti ini, perlahan menghapuskan nama Dewa dari hatinya bisa lebih mudah. Lebih baik berakhir dengan cara seperti ini, dari pada berakhir dengan rasa sakit karena memaksakan diri membenci apa yang tak ingin dibencinya. Mungkin berat namun ia harus bisa melupakan perasaannya ke Dewa.
----------------------------------------------------------------

Dewa merasa lebih tenang, dan lebih bahagia. Diam-diam ia menghela napas panjang penuh kelegaan setelah Keiko turun dari mobilnya. Ia memang membutuhkan Keiko saat ini, lebih dari sekedar sahabatnya. Dengan cara ini, ia berharap kedekatan mereka kembali lagi dan Keiko bisa membuka hatinya lagi. Alasan nya sederhana, Karena ia butuh Keiko disampingnya, karena perasaan yang sungguh menyesakkan adalah menyimpan perasaan aneh ini, pikir Dewa disela senyum tipisnya.

Love Do [Part 20]

Mona menyodorkan segelas teh hangat untuk Keiko yang sedang duduk di Bangku taman sekolah seraya memijit-mijit perutnya. Butiran keringat menghiasi keningnya.
"Pulang aja, Kei...nanti biar gue yang lapor ke wali kelas..muka lu pucat banget tuh.." kata Mona dan mengeluarkan tisu dari kantong bajunya.
"..gak ahh,Mon..ujian gak lama lagi..kalau gak hadir di minggu-minggu terakhir bisa susah belajarnya..mau minjam catatan pasti susah juga.."
"kan ada gue..fotocopy..beres.."
Keiko mengusap keringat dikeningnya dan tersenyum kecut. 
"..atau mau gue panggilin Dewa..??..biar bisa ngantar lu pulang..?"
Keiko buru-buru menggeleng. "..jangan..jangan,Mon..gak usah..gue lagi nggak mau ngerepotin dia dulu..dia banyak ujian tambahan karena bolos tanding basket..kalo pun harus pulang nanti biar minta dijemput Ayah..atau bisa nyebrang doang ke resto..." 
Mona mengerutkan dahi mendapati Keiko terbata-bata.
"..ya sudah,..pulang aja ya,Kei..istirahat..kompres perutnya dengan air hangat..lu bisa pingsan kalo sakitnya ditahan.."
Keiko mengangguk. Mona segera berdiri dan membantu Keiko bangkit dari duduknya.
"..gue jadi pengen tau, kalo datang bulan begini, pacaran ala lu dan Dewa bagaimana yah..??..berantem apa kagak..?" pertanyaan sederhana Mona ini membuat Keiko tersenyum getir. 
"..gak mesti nunggu datang bulan kalau mau berantem sama dia kali,Mon.." jawab Keiko santai dan Mona bereaksi dengan cengiran khasnya.
------------------------------------------------------------

Butuh 15 menit lamanya buat Dewa menunggu pesanan makan siang nya datang. Untungnya jam kedua pelajaran gurunya cuma ninggalin catatan. Sempat sewot beberapa saat namun hilang ketika melihat Bondan dan Lana jalan bersama menuju kantin sekolah. Alih-alih menghindari salah satunya, Dewa malah dihampiri kedua orang itu.
"..kok sendiri makan siangnya..?..mana Keiko..?" tanya Lana sambil matanya menyusuri isi kantin mencari sosok Keiko.
"..lagi di kelasnya.." jawab Dewa santai dan melahap makan siangnya.
Dewa bersyukur saat ekor matanya mendapati Mona yang juga sedang ada di kantin. Dengan sekali lambaian, Mona datang mendekati ketiga orang ini.
"..baru makan siang Wa'..??" tanya Mona setelah menyapa Bondan dan Lana.
Dewa mengangguk merasa aman dengan kehadiran Mona di antara mereka, setidaknya ia bisa dengan lahap menikmati makan siangnya dari pada harus meladeni Bondan dengan Lana. Sungguh hari ini ia tidak punya semangat untuk ber-basa-basi dengan teman-teman disekitarnya. 
"..pasti gara-gara ujian tambahan lu,..biar Keiko dan makan siang pun lu lupa.." lirih Mona membuat Dewa berhenti sejenak ketika mendengar nama Keiko dan dengan cuek nya melanjutkan kembali makan siangnya.
"Oh iya, Keiko mana, Mon...?" tanya Bondan. 
"..pulang..sakit tadi.."
Dewa mendongak, mengalihkan pandangannya pada Mona yang duduk tak jauh darinya. Menatapnya dengan pandangan cemas.
Seperti tahu arti tatapan cemas itu Mona kemudian tersenyum, "..datang bulan, hari pertama,..perutnya sakit jadi gue suruh pulang..Keiko sengaja gak ngabarin lu katanya lu lagi bnyak ujian tambahan.."
Nafsu makan Dewa hilang. Dengan susah payah ia menelan makanan dimulutnya. Memang sudah seperti ini Keiko, ia selalu merasa bisa mengatasi masalahnya sendiri, tanpa perlu memberi tahu Dewa. Sebaliknya ia adalah orang yang selalu melibatkan Keiko dalam urusannya dan selalu ingin tahu apa yang dilakukan Keiko. Sejak kapan..?.,sejak ia mulai merasakan perasaan yang berbeda untuk cewek yang menjadi pacar sementaranya itu. Meski dengan setengah hati memutuskan untuk berpisah dulu namun rasa ingin tau nya tentang keadaan Keiko begitu besar. Tapi tidak kali ini. Rasa ingin tahu nya dikubur dalam-dalam.
Meski hari ini dengan diam-diam ia memperhatikan gerak-gerik Keiko sejak pagi tadi dari kelasnya, tak sengaja mendapati Keiko melintas depan kelas nya beberapa menit sebelum jam istirahat berbunyi, tapi tanpa raut muka sedang sakit. 
Memang tidak adil. Ia yang sudah berusaha berdamai dengan hatinya semenjak di tegur dengan Jimmy tentang sikap bossy nya dulu, justru mendapati dirinya terlihat bodoh dengan mengharapkan bisa mengimbangi keadaan Keiko. Yang didapatnya justru ke-tidak-nyaman-an Keiko dengan hubungan mereka.
"..ada yang aneh sama kalian berdua.." Mona membuyarkan lamunan Dewa. Kebingungan, Dewa langsung berdiri, "Gue balik ke kelas duluan..gue masih ada ujian.." Dewa berbohong dan tanpa menghiraukan seruan Mona ia beranjak pergi meninggalkan makan siang nya yang belum habis.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Dewa mengetuk pintu kamar Lulu,adiknya.
"Luluuu..."
Lulu yang sedang belajar diatas tempat tidurnya langsung berbalik dan mendapati kakaknya sedang berdiri diambang pintu yang memang sedang terbuka.
"kak Dewa..??kenapa..??"
"..rumah kok sepi..papa sama mama mana..?"
"..gak tau..Lulu belum ketemu dari pagi.."
Dewa mendekat dan langsung merebahkan badannya sambil mengambil boneka Lulu. Melihat Boneka yang dipegangnya adalah boneka yang sama dengan yang dihadiahkannya untuk Keiko dulu membuat Dewa bangun lagi dan menjauhkan boneka itu darinya. Keiko benar-benar sudah membuatnya merasa gila. Sepertinya rumah ini juga menyimpan jejak-jejak Keiko.
Lulu mengerutkan dahi melihat tingkah kakaknya.
"..Lulu udah makan belum..??" tanya Dewa setelah terdiam sesaat. Lulu menggeleng, "..nungguin mama pulang dulu.." jawab Lulu kalem.
"..ikutan sama kakak saja yuk..makan burger..mau..??bosan nih sama masakan mbok Darmi..yukk.." ajak Dewa. Lulu terdiam sejenak. Memanyunkan bibirnya, "..tapi kan kasihan mbok Darmi nya sudah masak.."
"..udah, ayok..sekalian ngajak mbok Darmi juga boleh..kasihan dirumah terus..ayok.." Lulu tersenyum dan mengangguk keras. Menyukai ide kakak nya untuk mengajak mbok Darmi untuk ikutan keluar bersama mereka.
------------------------------------------------

Dewa memperlambat laju mobilnya saat melewati deretan rumah di perumahan ini. Lulu tak berhenti cerita dengan mbok Darmi tentang keluarga mbok Darmi dikampung. Dewa jadi pendengar setia sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati rumah-rumah yang dilewatinya.
"..kak Keikoooo..." tanpa sadar Dewa menginjak rem saat mendengar Lulu berseru seraya menunjuk keluar.
Dewa kaget sendiri dan menoleh kearah Lulu menunjukkan tangannya. Mbok Darmi sewot dibelakang.
"..mana..?" tanya Dewa.
"..nggak, maksud Lulu..kenapa kita nggak ajak kak Keiko juga pergi makan burger.." Dewa menghela napas setelah sadar ternyata mereka saat ini sedang berada tepat didepan halaman rumah Keiko yang sepi. 
"Keiko nya lagi sakit...jadi nggak bisa diajak jalan.."
"sakit apa toh,den...?" tanya mbok Darmi.
"..sakit perempuan,mbok...lagi datang bulan katanya.."
"..pantas saja kak Dewa hari ini bete'..kita nih korbannya.." kata Lulu sewot.
Dewa menyandarkan punggungnya. Matanya menatap kosong keluar jendela mobil, kearah rumah Keiko.
"..are you OK, ikan asin...?" batinnya, rindu.

---------------------------------------------------------------------------------
Lulu mengusap mukanya dengan air setelah tadi harus meladeni Dewa perang es krim. Di temani mbok Darmi, Lulu keluar dari kamar mandi stand es krim dan kembali menemui Dewa yang tengah berdiri dengan tatapan kosong keluar seperti memandangi sosok orang yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Di seberang, tepatnya di cafe. Seseorang yang dikenalnya baik. Papa nya dan seorang wanita tengah duduk berdua menikmati makan malam mereka di dalam cafe itu.
"..kak Dewa..habis ini kita kemana..?" tanya Lulu antusias.
"..kita disini dulu.." jawab Dewa tanpa mengalihkan pandangannya pada Lulu. Matanya masih merekam apa yang dilihatnya. Memastikan yang dilihatnya itu bukan papa nya. Dan memastikan apa yang ada di pikirannya salah. Namun kening Dewa berkerut saat melihat satu gerakan aneh yang dipertunjukkan wanita yang bersama papa nya mengulurkan tangan dan menyentuh pipi papanya. 
"Den.." Dewa menoleh ke mbok Darmi dengan tatapan dingin. Mbok Darmi juga melihat adegan itu. Tatapan Dewa kosong. Takut tidak bisa mengendalikan dirinya, ia bergegas melangkah pergi sambil menarik tangan Lulu.
"..kita pulang sekarang,Lu'.." 
Lulu protes. Namun Dewa tak menedengar apa yang Lulu omeli. Yang dia tahu, otaknya seakan membeku. Matanya terasa panas. Dan sepanjang perjalanan pulang Dewa hanya diam.